Desa Sejuta Warna - Desa Sawarna

on Selasa, 03 Mei 2011





ngeliatin apa ya dia?




Backpack. “Mau backpackeran ni.”, “Jalan-jalan yuk, backpackeran aja biar murah.”, “Ngegembel yuk, kemana gitu.” Sering banget ga sih denger kata-kata itu? Kalau saya sih sering banget, tapi sayangnya cuma sedikit yang terwujud jadi kenyataan. Kenapa? Mungkin karena takut, takut nanti perjalannya gimana, takut nanti disana gimana, takut nanti kenapa-kenapa. Atau malas merencanakan segala yang diperlukan disana. Lebih enak pakai jasa travel, tinggal bayar, maka segalanya sudah jelas. Atau mungkin karena kita lebih senang melewatkan proses, kalau bisa ga usah capai di jalan, tahu-tahu sudah sampai di tempat yang kita mau. Yah, apapun alasannya. Belakangan ini temen-temen saya ngajak jalan-jalan tapi belum ada yang terwujud.
Tapi ada satu perjalanan yang bisa terlaksana. Dengan rencana yang sudah dimulai sejak bulan Februari. Banten. Tepatnya Desa Sawarna. Sebuah desa di selatan Banten dekat Pelabuhan Ratu. Dan tentunya saya tidak sendiri ke sana karena pasti bosen banget sendirian jalan-jalan – Mmm… sebenernya karena saya ga mau nyasar sendirian juga sih. :p. Rencana sebelumnya adalah ke Serang untuk wisata sejarah, tapi karena keterbatasan waktu yang Cuma tiga hari jadi kita langsung aja ke Desa Sawarna.
Perjalanan dimulai dari Jatinangor (tempat persemayaman saya), lanjut ke Terminal Luewipanjang. Ternyata Anit masih asik bermesraan dengan orang stress di angkot, jadi saya langsung buka lapak (ngerokok) sambil nunggu dia. Sekitar jam 09.00, naik bus MGI Bandung-Sukabumi. Tenyata Bandung-Sukabumi lumayan jauh, 2,5-3 jam perjalanan akhirnya sampai di terminal Sukabumi, seinget saya jam 12.30an, soalnya begitu sampai ternyata salat Jumatnya sudah selesai. Sekalian makan siang dan salat Dzuhur sebelum lanjut jalan naik bus.
Lagi-lagi MGI, bus yang kami naiki. Jurusan Sukabumi-Pelabuhan Ratu, untung busnya ga lama ngetem tapi sesebentarnya bus ngetem tetep aja ada pengamen, mau dikasih permen  tapi yang ada DVD film Omen. Lanjut sampai di Pelabuhan Ratu sekitar jam 15.30, kami langsung naik EFL ke Jurusan Bayah. Seperti biasa, ELF baru mau jalan kalau udah penuh. Dan kami penumpang pertama. 1 jam nunggu akhirnya jalan juga, tidak lupa dengan posisi duduk berdesakan. -.-, Huff…
Jam 18.00 kurang kami sampai di Simpang Ciawi. Oia, naik ELF dari Pelabuhan Ratu turun di Simpang Ciawi, dari situ langsung naik ojek. Setelah proses tawar-manawar yang akhirnya nihil kami melewat jalan panjang, berliku, naik dan turun bersama tukang ojek yang agak ekstrim. Sayangnya sepanjang jalan ini siluet senja yang sebenarnya saya harapkan bisa didapat di pantai ternyata sudah terjadi saat kami naik ojek.
Kehabisan homestay membuat kami harus tinggal di rumah penduduk, hanya dengan satu kamar berdua. Oke, ga usah dibahas masalah satu kamar. Harapan bisa dapat harga yang lebih murah dibanding homestay tidak terpenuhi, kami pakai tariff yang sama untuk homestay. Karena sudah sampai malam hari, kami hanya makan dan menghabiskan malam di kamar; main kartu (anit tetep kalah), main Bingo (anit masih juga kalah), baca cerpen bareng (yang ini ga ada yang kalah). Setelah itu tidur.
pantai sawarna di pagi yang tidak buta 
mencari bapak!!!
Pagi itu (saya lupa bangun jam berapa), sebenarya berencana liat sunrise di pantai tapi sudah terlanjur kelewat jadi kami main di pantai – lebih tepatnya jalan-jalan. 2 jam di pantai sambil makan pop mie, menikmati ombak pantai yang bergulung-gulung seperti mie. Dengan orang-orang yang sedang surfing ditelan ombak sementara kami menelan mie.
2 jam berlalu di pantai yang bersih dengan air asin yang bening. Batu karang dengan batas pantai tanpa karang seakan member gambaran dua sisi pantai yang bertentangan tapi melengkapi – memadukan keindahan di pantai sawarna ini. Perjalanan kami dilanjutkan ke Goa Lalay yang berarti Goa Kelelawar.
kadang inspirasi terlihat di batu. :p
 Goa Lalay masih ada di kawasan Desa Sawarna. Kalau dari Pantai Sawarna jaraknya tidak terlalu jauh, ditempuh dengan berjalan kaki sekitar 30 menit. Saya sempat khawatir tersasar karena saat bertanya ke warga mereka bilang, kalau bisa ada yang mengantar karena nanti lewat sawah dan menyeberang sungai (kalau bisa ditemenin ninja Hatori, bisa dibawa mendaki gunung. :D). kenyataanya jalannya tidak terlalu ribet, setelah sampai di Rumah Makan Sederhana masuk ke gang, ikuti jalan sampai ke jembatan kayu, setelah itu tidak terlalu jauh sudah sampai ke mulut goa. Memang sih ada persimpangan yang harus tepat dipilih, untung Anit instingnya bagus jadi ga salah jalan. Lagipula homestay yang sudah penuh berarti banyak wisatawan, ini akan sangat membantu agar tidak tersasar. Benda yang tidak boleh terlupa adalah senter besar karena goanya gelap banget, karena waktu itu kami tidak bawa perlengkapan apapun untungnya bertemu pemandu yang warga asli kami bisa minta diantar jalan-jalan di dalam goa. Memang sebaiknya menggunakan pemandu kecuali keberanian anda cukup tinggi.
batu-batu timbal-timbul
 Ada apa di Goa Lalay. Baiklah. Saat masuk anda akan disambut hangat oleh genangan air setinggi dengkul saya, sebentar saya ambil penggaris dulu, dimana y penggarisnya? Ternyata penggaris saya ilang. Mmm… mungkin sekitar 60 cm lebih. Dalam kegelapan yang pekat kami memasuki lubang goa dengan penerangan lampu emergensi yang dibawa pemandu kami. Bagian bawah goa diselimuti tanah liat sementara dinding dan langit-langit dipenuhi stalaktit dan stalaknit. Liat di foto aja relif-relifnya. Terus menyusuri ke dalam akhirnya kami menemui ujung – bukan ujung goa tetapi ujung rendaman air. Goa ini cukup panjang dan ada batas air yang harus dilewati dengan berjalan diatas tanah liat yang lembek dan licin. Awalnya kami ingin terus masuk, tapi ternyata Anit terpeleset. *Ups…
Nampaknya tanah liat yang lembek membuat keberanian kami menjadi selembek tanah liat. Urung lah niat kami untuk menyusuri lebih dalam, dan kami kembali merendam kaki dalam genangan air menuju mulut goa. Melepas ketergantungan kami pada cahaya lampu emergensi.
Ternyata berjalan-jalan menikmasi Desa Sawarna cukup membuat saya kelelahan. Setelah membersihkan badan di pondokan, kami kembali bermain Bingo (kali ini saya kalah) hingga akhirnya saya pun terlelap. Sampai ada yang mengelap wajah saya kemudian kesadaran saya merangkak memenuhi pikiran hingga menadarkan saya, ‘sudah waktunya’.
17.00 WIB
adeu... hahaha
 Waktunya menikmati senja di Pantai Sawarna, tetapi sebelumnya kami ke warung. Senja yang sebelumnya terlewati di atas mesin tunggangan tukang ojek, saat ini kami lewati di pantai. Memang jika menikmati momen dari alam kita harus menyiapkan kesabaran. Awan besar menutupi siluet senja di seberang laut. Seperti lukisan yang digurat tinta oranye, begitulah langit senja di Pantai Sawarna yang kami lalui bersama di pinggir pantai. Hingga malam tiba. Kemudian sampai lah kami pada penghujung malam terakhir di Desa Sawarna
pantai yang tak tersentuh
senja di pantai sawarna

Next trip… Dieng Plateu..
Biaya backpack ke Desa Sawarna:
Transport brangkat
Damri Jatinangor-Leuwipanjang             = Rp.     2.000,00
MGI Bandung-Sukabumi                             = Rp.   21.000,00
MGI Sukabumi-Pelabuhan Ratu               = Rp.   19.000,00
Elf Pelabuhan Ratu-Bayah                          = Rp.   12.000,00
Ojek Simpang Ciawi-D.Sawarna               = Rp.   25.000,00
Transport pulang
Elf Desa Swarna-Pelabuhan Ratu            = Rp.   22.000,00
Sisanya sama..
Total Pulang Pergi               = Rp. 103.000,00
Pondokan                             = Rp. 50.000,00/orang/hari (2 hari = Rp. 100.000,00)
Pemandu Goa                       = Rp 14.000,00
Jasa Pencari Pondokan       = Rp.  5.000,00
Makan                                  = Rp.  8.000,00/makan (tergantung makanannya) = Rp. 40.000,00
Kebutuhan lain                 = Rp. 100.000,00
Total Keseluruhan          = Rp. 359.000,00
Gimana? itu masih bisa murah tergantung kitanya.. J
Selamat mencoba Desa Sawarna…
25 April 2011


Lomba Fotografi Fapet Unpad

on Selasa, 09 November 2010


LOMBA FOTO “FAPET FAIR 2010”

TEMA LOMBA FOTO
“KURBAN DAN TERNAK UNTUK MENDUKUNG SWASEMBADA DAGING 2014”
Obyek foto yaitu segala aktivitas dan kegiatan menjelang dan sesudah Idul Adha. Karya menggambarkan kebutuhan daging ternak sebagai bahan pangan.


HADIAH LOMBA FOTO
Juara 1 : Uang Tunai Rp. 750.000, Trophy, Piagam, Bingkisan Sponsor.
Juara 2 : Uang Tunai Rp. 500.000, Trophy, Piagam, Bingkisan Sponsor.
Juara 3 : Uang Tunai Rp. 300.000, Trophy, Piagam, Bingkisan Sponsor.


BIAYA PENDAFTARAN
Rp 25.000., (dua puluh lima ribu rupiah)
Di Transfer melalui Rekening:
Menghubungi CP.

TEMPAT PENDAFTARAN
Sekretariat : Student Center Fakultas Peternakan Unpad
Jl. Raya Sumedang Km 21, Jatinangor, Sumedang.
Atau menghubungi CP

BATAS AKHIR PENGUMPULAN FOTO
Senin 30 November 2010 (melalui Email : Rahmi_fapet08@yahoo.com )

DEWAN JURI
1. Dwi Cipto Budinuryanto (Pengamat bidang Peternakan)
2. Deni Sugandi (Fotografer)
3. Galih Sedayu (Pegiat foto)


KETENTUAN LOMBA FOTO PETERNAKAN UNPAD

• Lomba foto terbuka untuk masyarakat umum di seluruh Indonesia.
• Karya foto harus orisinil dan belum pernah dipublikasikan dalam bentuk apapun atau sedang tidak diikutsertakan dalam lomba sejenis.
• Setiap peserta mengumpulkan paling banyak lima foto.
• Foto yang dikirim berupa softcopy file format jpeg, ukuran sisi terpanjang 2500 pixel, yang dikirim ke Email: rahmi_fapet08@yahoo.com dan diberi keterangan tentang: judul foto, nama, alamat lengkap & nomor telepon.
• Peserta dapat mengirimkan foto beserta bukti pembayaran melalui email yang tertera di atas.
• Warna foto bebas & olah digital diperbolehkan kecuali menambah atau mengurangi elemen gambar dalam foto.
• Segala sesuatu yang menyangkut perijinan pemotretan menjadi tanggungjawab peserta. Panitia tidak bertanggung jawab terhadap adanya tuntutan pihak lain atas penyertaan, peralatan, lokasi, model, obyek lainnya dalam foto yang dikirimkan.
• Seluruh foto yang masuk menjadi dokumen panitia BEM Peternakan UNPAD dan Hak cipta tetap menjadi milik masing-masing fotografer.
• Keputusan Dewan Juri mutlak, sah & tidak dapat diganggu gugat.

Informasi lanjut,
Panitia lomba foto “Fapet Fair 2010”
Sekretariat : Student Center Fakultas Peternakan Unpad
Jl. Raya Sumedang Km 21, Jatinangor, Sumedang.
Cp : Sugeng Utomo (085693118967)
Rahmi A (085294792790)
E-mail : rahmi_fapet08@yahoo.com 

 

Hanya

on Jumat, 29 Oktober 2010


Tulisan ini dibuat karena rasa protes sekaligus kecewa gw ke dosen-dosen yang terlalu banyak mengajarkan kebijaksanaan saat kuliah hingga tugas utama mengajarnya terabaikan.
***
Malaikat bertebaran di seatero semesta. Mengamati mahluk Tuhan bernama manusia. Ia tak pernah mengerti mengapa Tuhan menciptakan manusia, menjadikannya sebagai mahluk paling mulia yang diciptakan. Benci! Tidak, malaikat tidak memiliki nafsu untuk membenci. Ia hanya tidak pernah mengerti. Seandainya ia diciptakan dengan nafsu mungkin ia akan memilih menjadi seperti iblis yang berusaha membuktikan manusia hanya mahluk gagal.
Melayang-layanglah malaikat mendampingi manusia. Kanan dan kiri. Mencatat kelakuan manusia. Untuk apa! Bahkan Tuhan telah berkata pahala manusia tidak akan mampu menutupi dosa, hanya rahmat-Nya yang mampu menolong dari jilatan lidah api neraka. Tugas sia-sia malaikat tetap tidak membuatnya urung bertugas, tidak seperti manusia yang memilih berhenti berusaha saat sia-sia yang ia rasakan.
Ia memilah-milah tidak-tanduk manusia dalam dua buku. Kebaikan – kejahatan. Apa ia benar-banar tau arti dua kata itu! Atau lagi-lagi hanya menjalankan tugas! Dasar apa yang ia gunakan untuk memilah tindakan manusia!
Ia adalah mahluk paling dekat dengan Tuhan. Bahkan dengan menjadi mahluk paling dekat sekalipun ia masih tidak paham kebijaksanaan Penciptanya. Bagaimana dengan manusia! Tuhan masih memberi kesempatan setiap mahluknya untuk memahami pemikirannya – lewat tulisan-Nya. Ya, Tuhan saja meminta mahluknya mempelajari dari apa yang tertulis, entah di kertas atau di alam.
Dari membaca kita memahami. Sejauh mana kita mampu memahami! Tuhan memberi kesempatan untuk pemahaman yang terbatas. Apakah kita yakin yang kita pahami sudah sesuai dengan maksud-Nya!
Sementara malaikat terdiam dalam ketidak pahamannya, manusia telah terlalu yakin dengan pemahamannya hingga berusaha mencekoki pemahaman yang terbatas kepada manusia lain. Biarkan manusia memahami sendiri kehendak Tuhan lewat membaca, biarkan manusia memilih pemahamannya.
Sapaikan saja pemahaman 'kalian', jangan terlalu yakin 'kalian' telah benar-benar memahami kebijaksanaan-Nya.
Setiap koin bermuka dua, hanya satu muka yang dapat kita lihat dalam satu waktu. Yang terlihat benar bisa salah di lain waktu.
Jatinangor, 22 oktober 2010

Pemahamannya Tidak Lebih Baik

on Jumat, 22 Oktober 2010


Tulisan ini dibuat karena rasa protes sekaligus kecewa gw ke dosen-dosen yang terlalu banyak mengajarkan kebijaksanaan saat kuliah hingga tugas utama mengajarnya terabaikan.
***
Malaikat bertebaran di senatero semesta. Mengamati mahluk Tuhan bernama manusia. Ia tak pernah mengerti mengapa Tuhan menciptakan manusia, menjadikannya sebagai mahluk paling mulia yang diciptakan. Benci! Tidak, malaikat tidak memiliki nafsu untuk membenci. Ia hanya tidak pernah mengerti. Seandainya ia diciptakan dengan nafsu mungkin ia akan memilih menjadi seperti iblis yang berusaha membuktikan manusia hanya mahluk gagal.
Melayang-layang lah malaikat mendampingi manusia. Kanan dan kiri. Mencatat kelakuan manusia. Untuk apa! Bahkan Tuhan telah berkata pahala manusia tidak akan mampu menutupi dosa, hanya rahmat-Nya yang mampu menolong dari jilatan lidah api neraka. Tugas sia-sia malaikat tetap tidak membuatnya urung bertugas, tidak seperti manusia yang memilih berhenti berusaha saat sia-sia yang ia rasakan.
Ia memilah-milah tidak-tanduk manusia dalam dua buku. Kebaikan – kejahatan. Apa ia benar-banar tau arti dua kata itu! Atau lagi-lagi hanya menjalankan tugas! Dasar apa yang ia gunakan untuk memilah tindakan manusia!
Ia adalah mahluk paling dekat dengan Tuhan. Bahkan dengan menjadi mahluk paling dekat sekalipun ia masih tidak paham kebijaksanaan Penciptanya. Bagaimana dengan manusia! Tuhan masih memberi kesempatan setiap mahluknya untuk memahami pemikirannya – lewat tulisan-Nya. Ya, Tuhan saja meminta mahluknya mempelajari dari apa yang tertulis, entah di kertas atau di alam.
Dari membaca kita memahami. Sejauh mana kita mampu memahami! Tuhan memberi kesempatan untuk pemahaman yang terbatas. Apakah kita yakin yang kita pahami sudah sesuai dengan maksud-Nya!
Sementara malaikat terdiam dalam ketidak pahamannya, manusia telah terlalu yakin dengan pemahamannya hingga berusaha mencekoki pemahaman yang terbatas kepada manusia lain. Biarkan manusia memahami sendiri kehendak Tuhan lewat membaca, biarkan manusia memilih pemahamannya.
Sapaikan saja pemahaman 'kalian', jangan terlalu yakin 'kalian' telah benar-benar memahami kebijaksanaan-Nya.
Setiap koin bermuka dua, hanya satu muka yang dapat kita lihat dalam satu waktu. Yang terlihat benar bisa salah di lain waktu.

Diikuti atau Mengikuti

on Selasa, 19 Oktober 2010

Lagi liat-liat blog orang entah dari blogspot, wordpress, ato tumlr gw malah melihat hal aneh. Ini buat gw  kali ya, ga tau apa orang lain juga merasakan kalo punya blog ataupun jejaring sosial yang lain selalu berharap ingin ada yang mengikuti. Setidaknya jumlah blog itu dibaca orang lain cukup tinggi. Atau juga setidaknya kalo lagi dicari sama paman Google ada diurutan pertama.
Salah ga sie mau jadi populer. Jadi pusat. Diikuti banyak orang. Mungkin ga masalah, tapi kembali lagi dunia maya selalu kembali pada : Apakah saya sama jika di dunia nyata?. ha.ha.ha sejujurnya gw lagi males bercermin untuk diri sendiri, belakangan memang tidak pernah berakhir sesuatu 'itu'. Bisa jadi ada benarnya ketika di dunia nyata apa yang gw lakukan berbeda dari dunia maya. Kalo di dunia maya gw berusaha diikuti banyak orang dengan usaha-usaha tak kenal malu, Mmm.... kalo di dunia nyata disuruh maju sama dosen juga mikir-mikir.
Sebenernya kalo gw konsisten dengan harapan populer seperti di dunia maya, semestinya waktu mendapat kesempatan unjuk taring gw ga bakal menyia-nyaikan. Yah, tapi memang seperti ini hidup. Beda sama mimpi. Kadang mimpi bisa jauh lebih indah dari kenyataan, tapi terkadang juga mimpi malah bisa lebih kejam dari kenyataan. So, tong lila-lila teuing sare teh... hahahaha...
***
sudah lama ga nulis di blog. sbenernya materi tulisan ada, tapi ga beres ditulis mulu. gara2 .... Mmm... sesuatu yang tidak ingin dipendam terlalu lama, tapi juga ga ingin dilepas..

Owww...... Hahahha

on Sabtu, 25 September 2010


Seorang dosen tergesah-gesah menjelaskan materi kuliah di ruang yang telah dipenuhi mahasiswa berwajah muda-mudi. Entah mengapa. Mungkin ia sedang terburu-buru akibat ada urusan mendesak membuatnya seperti dikejar berekor-ekor anjing, atau mungkin ia sedang merasa tidak enak badan sehingga ingin menyegerakan tugasnya, atau mungkin ia sudah bosan melihat mata-mata mahasiswa yang terbuka lebar tapi entah otaknya.
Penjelasannya mulai kacau, pilihan katanya mulai tidak teratur. Ia masih terus memaksakan diri dalam ketidaknyamanan. Hingga kalimat pamungkas bertebaran dari mulutnya yang membuat para mahasiswa memicingkan mata keheranan sekaligus menjadi ciut hatinya.
“Pengolahan susu memang sulit. Susah-susah sulit!”
Dan kemudian mahasiswa-mahasiswi keluar ruang dengan muka muram, wajahnya seperti meleleh. Semester ini akan berat untuk dilalui.

Serigala Terakhir

on Rabu, 01 September 2010


Hooeeeek….. muntah gw tengah malem nonton ni film. Asli ga penting dan buruk banget ni film. Isi filmnya adalah:
Teriak ;”Aarrggghhhh…”
Nangis : “Hiks… Hiks… ;(“
Tembak : “An***g! mati lu!”
Selesai. Diulang lagi.
Teriak ;”Aarrggghhhh…”
Nangis : “Hiks… Hiks… ;(“
Tembak : “An***g! mati lu!”
Lagi.
Teriak ;”Aarrggghhhh…”
Nangis : “Hiks… Hiks… ;(“
Tembak : “An***g! mati lu!”
 Dan lagi.
Teriak ;”Aarrggghhhh…”
Nangis : “Hiks… Hiks… ;(“
Tembak : “An***g! mati lu!”
Tapi ada yang lain.
“Ibu… maafkan aku.. ;(“
Tembak lagi.
“Aagggrhh..”
Selesai.
Dan gw, Hoooeeeekkkkkssssssss…….
Najis!