Membentuk kebiasaan anak

on Senin, 05 Juli 2010


Sore itu gw dibuat makin kaget dengan cara mas agus mendidik – memberi contoh – membentuk kebiasaan anaknya yang belum genap 2 tahun.
Mas Agus, si menantu ibu kos yang suka ke kosan bantu-bantu kerjaan yang ada di kosan. Minggu ini dia diminta bantu ngecet kosan yang udah mendekati kontrak baru di bulan Juli. Biar keliatan bagus kosannya. Gw sering ngobrol-ngobrol sama dia, termasuk sore itu.
Beberapa bulan sebelumnya gw ngobrol-ngobrol di depan kamar. Ceritanya dia ga ngelanjutin sekolah setelah SMP. Ga ada biaya,katanya. Sekarang kerjanya kalo ada proyek reparasi alat elektronik, atau ngga dia ngojek di daerah jatinangor. Waktu baru punya anak. Cerita dia. Anaknya ga dikasih ASI dengan intensif, maksudnya  ASInya dah langsung ditambah pengganti ASI. Apa ibunya ga bisa ngasih ASI? Bukan, Mas Agus sengaja ga ngasih. Menurut dia kalo anaknya dikasih ASI nanti anaknya jadi susah dipisahin dari ibunya,. Jadi bandel waktu ASInya berenti. Entah itu ilmu didapet dari mana. Untngnya si anak masih keliatan sehat.
Beberapa minggu setelahnya gw ngobrol-ngobrol lagi sama dia tentang UNPAD yang mulai menutup akses masyarakat sekitas untuk masuk ke kampus. Anaknya datang sama ibunya. Keliatannya ni anak emang lebih deket sama bapaknya, jadi tiap bangun tidur dia biasannya langsung nyari Mas Agus. Ga lama ibunya pergi karena masih ada kerjaan di bawah. Mas Agus menyulut api. Nyalain rokok. Gw cuma ngeliatin aja, anaknya yang lagi dia gendong sambil ngeroko diem aja. Ga apa-apa Mas ngeroko didepan anak kecil? Ga apa-apa, kan anak perempuan. Kalo anak laki-laki tar diikutin, kalo perempuan mah ngga. Begitu jawab dia. Di kampus gw perempuan ngeroko udah makin banyak, gw sie ga terlalu mikirin. Tapi apa mungkin awalnya karena orang tua kayak Mas Agus yang berpikir ngeroko di depan anak perempuan aman, jadilah makin banyak perokok aktif.
Dan sore itu.  Gw makin suka main di saung belakang kosan. Biasanya anginnya seger, ga berisik suara lagu-lagu anak-anak kosan. Sambil ngopi plus rokok gw menghabiskan sore di sana. Sore itu gw berdua sama Mas Agus. Biasa ngobrol sana-sini yang memang ga penting sie. Ujungnya kita ngopi di sana, anaknya yang udah datang dari tadi ngeliatin kopi terus. Apa? Mau kopi? Kata Mas Agus ke anaknya. Masih panas. Si anak ngelanjutin ngemil kuaci. Setelah kuaci abis, si anak kembali mendekati kopi yang sekarang udah lebih dingin. Ini. Mas Agus ngodorin gelas berisi kopi. Diteguknya kopi oleh si anak. Ko dikasih kopi mas? Iya, biasanya juga 1 gelas dia yang habisin.

Fenomena : nonton bokep, ko jadi lazim

on Kamis, 17 Juni 2010

     Di bulan Juni acara-acara gosip lagi rame banget ngebahas video artis gara-gara ada yang nyebar di internet. Dan liat, orang-orang jadi dengan santainya nanya, "udah liat video artis a/b/s?". Dan kemudian dijawab pula dengan santai, "gw udah nonton semua dah.". Mau cowo, mau cewe sama-sama bertanya dan menjawab dengan santai, seperti pertanyaan dan jawaban, "udah makan belom?". Ditanyakan seakan bukan rahasia, dijawab seakan sesuatu yang biasa aja nonton yang begitu. Lazim. Normal. Seperti tidak ada norma yang dilanggar.
Wow!!!!

curiga mencurigai

on Selasa, 15 Juni 2010


Pengalaman ikut PKM ternyata benar-benar membuka mata gw tentang berbagai hal. Salah satunya korupsi. Dana yang kelompok gw ajukan dalam proposal tenyata hanya sekitar 75% yang di acc. Dan ternyata bukan hanya kelompok gw yang mengalami perlakuan ini, hampir seluruh kolompok PKM didanai tidak lebih dari 7 juta. Yang jadi masalah adalah tidak ada kejelasan mengapa dana yang sebelumnya dijanjikan 10 juta maksimal justru menjadi 7 juta maksimal. Tentu ini menimbulkan prasangka-prasangka negatife, kemana uangnya?
Sabagai pelaksana bisa dibilang gw ga bisa ngapa-ngapai dengan masalah ini. Ya, mungkin sebenernya untuk mencari kejelasan bisa saja, tapi, ah, ribet, males. Kerjain aja pake yang ada. Lagian dana 75% itu cukup. Ups, kok cukup? Iya, karena dalam proposalnya anggaran yang diperkirakan sudah di-markup. 50% dari pengajuan juga sebenernya cukup.
Melihat pelaksanaan PKM oleh mahasiswa, bisa dibilang sedikit menimbulkan kecurigaan dari UNPAD. Ini dilihat dari secara tiba-tiba laporan akhir harus disertai bukti konkrit penggunaan dana hibah. Padahal sebelumnya tidak diminta. Mungkin benar, dana yang seharusnya digunakan seluruhnya untuk menjalankan PKM malah banyak yang dibelokkan oleh pelaksananya.
Seketika itu pula gw jadi bingun. Mahasiswa – pejabat, sama-sama curiga, sama-sama mengawasi. Sama-sama cari celah, sama-sama ngorek borok. Sampe lupa sama diri sendiri.
Bukan cuma orang yang sudah berkedudukan yang potensi korupsi. Pelajar juga bisa.  Yaa, maklum lah, kapitalis, hedonis, individualis, sudah tumbuh dari kecil. Makin banyak Mr.Krab-Mr.Krab baru ni.

Cuma Satu

on Sabtu, 05 Juni 2010


Suatu saat nanti ketika gw bakal meninggal, ada satu hal yang paling ingin gw lakukan. Bukan lakukan lebih tepatnya, tapi rasakan. Gw mau merasakan nikmatnya memiliki Tuhan.
Gw punya Tuhan, tapi ga pernah bisa gw nikmati.
Gw beragama, tapi ga benar-benar memaknai arti beragama.

Nasionalisme! Mau aja dibegoin penguasa

on Senin, 03 Mei 2010


Siph! Kebiasaan nonton film di tengah malem. Dan malam ini nonton Mulan. Tau dong film Mulan? Seorang wanita yang sembunyi-sembunyi jadi laki-laki untuk masuk ke kamp tentara demi menggantikan bapaknya yang sedang sakit. Yang gw tonton film versi manusiannya. Sangat berbeda dengan versi kartunnya. Mmm… lebih masuk akal. Ga pake kuda dan belalang yang bisa diajak bicara apalagi naga yang ga jelas! Hahahaha
Kalo di versi kartun yang lebih ditonjolkan  heroisme wanita yang ga kalah sama laki-laki. Sementara versi manusia cukup lebih kompleks, mungkin karena yang bikin dah tau penontonnya cukup mengerti heroisme Mulan, jadi film versi manusianya lebih menonjolkan feminisme seorang pemimpin wanita.
Layak tonton lah! Lumayan!!!
Oke,this’s not the point!
Intinya gini. Nasionalisme. Sering banget ya dengarnya. Yang terbayang langsung bangsa, negara, perjuangan, pengorbanan, tumpah darah. Wah, pokoknya tanpa pamrih-lah. Nasionalisme, sifat menasional. Usaha-usaha menjaga dan mempertahankan keberadaan, masa depan, eksistensi suatu negara.
Di film Mulan. Sebuah negara mengalami keterancaman atas negara lain, ujung-ujungnya perang. Dipanggil-lah rakyat jelata untuk ‘membela’ tanah air. Tanah air. Negara. Bangsa. Sebuah wilayah yang sebelumnya didominasi/ditinggali oleh sekumpulan orang, akhirnya dikotak-kotakkan oleh mereka. Diakui sebagai hak milik. Mereka mulai membentuk pemerintahan – system dll. Dan kemudian muncullah kompetisi. Tuntutan untuk menujukkan wilayah mereka lebih baik dari wilayah lain. (tanpa bermaksud men-general-kan) keinginan menunjukkan eksistensi muncul dari penguasa-penguasa, sebagian ada yang ingin dikenang sebagai penguasa berprestasi, ada juga yang emang diotaknya cuma mau jadi nomor satu, atau juga memang cuma mau seneng-seneng. Yah, intinya ego negative pribadi penguasa. Terus penguasa-penguasa ini berusaha menanamkan nasionalisme ke para rakyat, tentu dengan berbagai macam dalih. Rakyat jelata bodoh, dimain-mainin mau. Disuruh perang buat ‘membela’ Negara, mau.
Negara adalah simbol buatan manusia untuk menunjukkan keberadaan suatu wilayah yang sebelumnya dianggap hak milik. Layakkah simbol-simbol itu dipertahankan dengan nyawa?
And I say, NO!

Badai di Nangor!

on Minggu, 11 April 2010


14.00 WIB
Tiba-tiba angin kencang disertai hujan menghampiri Jatinangor. Kaget juga gw. Jendela sampe kena air hujan, barang-barang di luar kamar langsung pada basah. Untungnya beberapa barang sempet dimasukin. Kalo diinget-inget dulu juga pernah badai angina kayak ini terjadi di Jatinangor, mungkin lebih parah dari tadi siang.
Ga sengaja waktu mau duduk pantat gw nyenggol penahan jendela. Penyok!!! Inisiatif dong gw, langsung benerin. Sekuat tenaga balikin penahan keposisi semula, tiba-tiba. Tak!!!
Waduh.. Ko besi begini patah gara-gara tenaga gw. Jadi merasa punya tenaga kayak super hero gini. Ahahahaha

18.00 WIB
Karena ada yang perlu diprint jadi gw ke luar kosan. Liat sana-sini habis badai. Wuiiihh.. ada papan roboh, padahal ditahan pake besi, tetep aja ga kuat nahan angin kenceng.
Beberapa hari yang lalu, setelah hujan. Jatinangor dimanjakan dengan panorama pelangi di senja hari. Mereka yang melihat setuju itu sore yang indah. Dan sore ini, setelah badai. Jatinangor dimanjakan dengan panorama langit oranye senja. Mungkin tidak seindah waktu itu tapi gw jadi pingin moto, sayang udah keburu malem waktu gw baik ke kosan. Huhuhuhu
kalo emang bener gw dah punya kekuatan super hero rasanya gw mau terbang menikmati senja ini.. *cieelah…. Gaya lu dah!

Tikus = Tempat Sampah

on Senin, 29 Maret 2010

Sebelum liburan semester kemaren gw dapet kabar baik, tapi ga tau juga sie bisa disebut baik ato justru kabar 'Huuuaaaaa!!!!'. Dua proposal PKM-P yang diajuin ke Dikti lolos didanai, dan keduanya berurusan dengan yang namanya tikus. Hiiiieeee.... Megang mencit waktu praktikum reproduksi ternak aja ga berani apalagi tikus (rat) yang segede tikus got.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Sudah satu minggu 15 ekor tikus nginep di kosan gw. Enam hari di dalam kamar. Huwweee', baunya ga nahan! akhirnya hari minggu bikin kandang bwt ditaro di luar. Dan pernapasan gw bisa puas menghirup udara segar. hehehe
sehari sebelum dibwt kandang diluar, tikusnya sempet gw taro pake kandang bekas kelinci. Minggunya, setelah dipindah ke kandang baru .... Lho! ko kurang satu..bingung lah kita bertiga. Malemnya temen kosan bilang kalo ngeliat tikus putih, sambil parno nyeritainnya katanya takut kayak tikus raksasa di film2. *emangnya tu tikus mutasi! hahaahaha


Hari ini ternyata sang tikus yang melarikan diri ditemukan di belakang kosan waktu mas Agus mau bakar sampah. Gw sama Mang2 nguber-nguber ni tikus ada dimana, sambil teriakan mas Agus dan Ibu kos menemani, "Ada ga!!". *sabar woi!


Ternyata sang tikus ngumpet di dalem tempet sampah. dengan badan putih dan mata merahnya. Wuiiihhh... bener juga kata temen gw, kayak di film2 fiksi ilmiah gitu.. ahahahaha


Beberapa persepsi kita terhadap tikus:
1. Tikus itu jorok.
2. Mainannya di tempat sampah.
3. Pembawa penyakit.
4. Pokoknya ada tikus, GEBUK!!!


Tapi, yang gw yakini tantang tikus tentu bukan ketiga hal itu.
  1. Tikus itu hawan bersih. Lho! Tikus memiliki kebiasaan bebersih seperti kelinci atau kucing. Ngejilat bulunya, sebagai upaya mandi. *kakinya ga bisa megang gayung kali, jadinya dijilat...
  2. Tikus bukan lagi main di tempat sampah. Dia lagi nyari makan. Maklum manusia suka buang bahan organik yang bisa dimakan tikus, makannya dia ke sana. Lagian hewan kayak tikus ga suka tinggal di tempat lembab kayak tempat sampah.
  3. Semua hewan bisa jadi pembawa penyakit. Maka dari itu kalo melihara hewan kebersihan harus dijaga dengan baik.
  4. Eiittt,,, ada tikus cukup ambil ekornya dan angkat. Simpel kan!!! Tapi perlu diperhatikan cara ini lebih mudah diterapkan pada tikus jinak karena kalo tikus liar baru dideketin dah kabur. Capek nguber2nya juga.
nb: tikus di gambar 2 kotor ya? itu gara2 gw naro 15 ekot tikus dalam kandang kecil.. sekarang dah lumayan lebih bersih.------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Rencananya gw mau buat jurnal PKM-P, tapi sampe sekarang belum terealisasikan. Dan beberapa hal tidak tercatat jadi dah keburu lupa. Yah, semoga posting ini bisa mengingatkan gw buat nulis jurnalnya. Amin...